Senin, 14 Oktober 2013

Orang Buta dan Gajah


Alkisah, terdapat 6 orang buta yang diminta untuk memegang seekor gajah. Orang buta pertama mendekati gajah lalu memegang gadingnya. Kemudian saat ditanya seperti apakah gajah itu, orang buta yang pertama menjawab, “Gajah itu seperti tombak yang tajam.” Lalu orang buta kedua juga ikut mendekati gajah dan memegang belalainya. Orang buta kedua ini berkata “Gajah itu seperti ular yang besar.
Tidak lama orang buta ketiga mendekati sang gajah, memegang kaki sang gajah dan berkomentar, “Gajah itu seperti pohon.”  Orang buta keempat juga mendekat gajah dan memegang telinga sang gajah. Dia berkata, “Gajah itu seperti kipas, tipis dan lentur.” Orang buta kelima juga mendekat gajah dan memegang bagian perut, lalu berkomentar “Gajah itu seperti dinding yang besar dan kuat.” Terakhir, orang buta keenam ikut memegang gajah dan mendapati ekornya yang mengibas-ngibas dan berkata, “Gajah itu seperti tali tambang.

Dari keenam jawaban itu, manakah yang benar?  Sudah tentu bagi kita yang dapat melihat sempurna hanya bisa tersenyum sambil berpikir bahwa keenam jawaban orang buta itu memang semuanya benar, karena mereka semua memegang benda yang sama yaitu sang gajah. Hanya mereka memegang di bagian yang berbeda.  Di satu sisi, gajah bisa terasa seperti pohon saat kita memegang kakinya yang besar dan bertekstur kasar, namun di sisi lain gajah juga bisa terasa seperti tali tambang bila kita memegang bagian ekornya.


Masalahnya di sini adalah bahwa orang buta tersebut hanya memegang salah satu bagian dari gajah yang besar, dan tidak dapat melihat seluruh gajah itu secara keseluruhan. Cara pandang memang merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan. Seringkali kita menemukan permasalahan (gajah) yang terjadi bukanlah sesuatu yang pelik, tetapi disebabkan karena adanya perbedaan sudut pandang.

Yang satu melihat sang “gajah” itu dari depan sehingga hanya melihat belalai, dan yang lain melihat sang “gajah” dari belakang sehingga hanya melihat bagian ekor saja. Hingga tidak akan pernah dapat dihasilkan sebuah keputusan yang memberikan benefit bagi kedua pihak, karena masing-masing melihat hal berbeda di dalam 1 masalah (gajah) yang sama.

Kita perlu melihat setiap masalah yang terjadi dengan “Helicopter view”, yaitu melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas. Hal ini dapat membuat kita melihat masalah secara utuh, yaitu dari sudut kepentingan kita, terutama dari sudut kepentingan orang lain. Konon, bila kita bisa mengerti rahasia ini, seluruh masalah yang kita hadapi saat ini akan dapat lebih mudah untuk diatasi.  

Mungkin ada sebagian dari Anda  pernah mendengar cerita di atas. Namun, lebih penting dari sekedar memahami konsep adalah bagaimana kita dapat melakukannya di dalam pekerjaan kita sehari-hari. Bisa jadi banyaknya ilmu maupun leadership skill yang kita pelajari, hanya berakhir di kepala kita, tanpa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk merasakan manfaatnya. Mari kita bersama-sama hidup dalam keharmonisan dengan saling memahami satu dengan yang lain.

*Dari berbagai sumber

Agree?
See you.. ^_^v

1 komentar: